Kontribusi Koperasi terhadap UMKM

Secara normatif, koperasi merupakan kegiatan bisnis dengan mendayagunakan potensi ekonomi anggotanya. Potensi-potensi anggota ini secara kolektif akan membentuk kekuatan yang besar sehingga bisa dicapai semacam skala ekonomis yang lebih layak dalam berusaha.
Dalam prakteknya di Indonesia, pengertian secara normatif ini mengalami sedikit adaptasi dengan masuknya konsep koperasi sebagai bagian dari pembangunan tersebut. Pembangunan koperasi merupakan salah satu program atau kegiatan pembangunan, sehingga pemerintah melakukannya secara top down. Jika dibandingkan dengan perkembangan koperasi di negara-negara lain, terutama negara maju yang bersifat bottom up.
“Masuknya konsep ini merupakan konsekuensi dari kondisi Indonesia sebagai negara berkembang dengan tingkat kemiskinan tinggi dan ekonomi yang rendah,” ujar mantan Menteri Koperasi/PPK Drs Soebiakto Tjakrawerdaya.
Satu hal yang perlu dipahami tentang koperasi, lanjut Sebiakto, bahwa koperasi tidak mungkin berdiri sendiri tanpa hubungan dengan pihak lain baik usaha negara maupun swasta. Secara internal, koperasi sangat membutuhkan kerja sama dengan pihak lain itu karena keterbatasan kemampuan dalam manajemen, pengelolaan SDM, serta sumber-sumber kemampuan lainnya, seperti modal dan teknologi. Sedang secara eksternal globalisasi sudah keburu berjalan, sehingga koperasi perlu menjalin kemitraan dengan pemerintah (BUMN) dan swasta, sehingga dalam berusaha persaingan bebas yang sehat antarpelaku ekonomi ini bisa terjamin.
Soebiakto berpendapat, ada dua pemikiran ekstrim mengenai pembangunan koperasi dan pembangunan secara umum; konsep lokomotif dan pondasi. Konsep pertama menekankan peran swasta perusahaan-perusahaan besar untuk mendorong pertumbuhan yang nantinya akan menarik perekonomian ke arah yang lebih baik, sementara konsep kedua menekankan peran masyarakat sebagai basis untuk mendorong perekonomian ke arah yang lebih baik.

Untuk pembangunan koperasi Indonesia, menurut Sekretaris Yayasan Damandiri ini, kedua konsep itu harus diselaraskan dalam suatu pola kemitraan. Swasta dan BUMN sebagai lokomotif harus bersama-sama dengan koperasi sebagai pondasi untuk menumbuhkan iklim berusaha yang sehat di mana tidak ada pelaku ekonomi yang berusaha dengan mematikan agen ekonomi yang lainnya.
Dilihat dari daya serap yang dihasilkan, disebutkan pada data survey serta perhitungan Badan Pusat Statistik (BPS) mengenai kontribusi UKM terhadap PDB tanpa minyak dan gas pada tahun 1997 misalnya mencapai 62,71 persen, dan memberikan kontribusi pertumbuhan setiap tahun 0,21 persen, lalu pada tahun 2002 naik menjadi 63,89 persen. Sementara kontribusi usaha besar pada tahun 1997 hanya 37,29 persen dan di tahun 2002 turun menjadi 36,11 persen.
Bila dilihat dari jumlah unit usahanya, UKM pada tahun 1997 sudah mencapai 39.704.661 unit atau sekitar 99,48 persen dari total jumlah unit usaha yang ada di Indonesia. Meski akibat krisis, pada tahun 1998 lalu sempat turun menjadi 36.761.689 unit, tapi tahun 1999 lalu naik lagi hingga 41.301.263 unit atau sekitar 99,85 persen dari total jumlah unit usaha Indonesia.
Dari segi penyerapan tenaga kerja sektor koperasi dan UKM sesuai data BPS tahun 1997 UKM mampu menyerap 99,4 persen tenaga kerja dari total lapangan pekerjaan di Indonesia, dan tahun 2000 mencapai 99,47 persen dari total serapan nasional. Kemudian tahun 2002 lalu naik menjadi 99,74 persen. Sedang sumbangan koperasi terhadap produk domestik bruto (PDB) mencapai 41,32 persen dan UKM 16,38 persen.
“Sumbangan KUKM terhadap ekspor nasional memang baru 3,97 persen. Artinya, kontribusi ekspor memang masih rendah dan baru sebatas menyelematkan jumlah tenaga kerja dan upaya untuk bertahan hidup,” kata Alimarwan.
Hal itu tak lain karena masih adanya kelemahan bersifat eksternal dihadapi koperasi dan UKM, tambah Menneg Kop dan UKM kabinet Gotong Royong, antara lain kurang mampu beradaptasi terhadap pengaruh lingkungan strategis, kurang cekatan memanfaatkan peluang usaha, serta minimnya pembaharuan dan kreativitas dalam menghadapi tantangan resesi ekonomi.
Ia menilai, media massa memiliki peran penting dalam pengembangan usaha koperasi dan UKM. Karena media massa dapat menyebarkan informasi teknologi, pasar dan lain sebagainya dalam pengembangan usaha koperasi dan UKM tersebut. Media juga mampu menjadi media sosial kontrol terhadap layanan usaha koperasi dan UKM.

sumber : KBI gemari

tanggapan :

dari wacana di atas, menurut saya koperasi sudah memberikan kontribusi yang cukup terhadap UMKM. Tindakan yang harus dilakukan yaitu tinggal kita mengawasi dan menjaga agar kepercayaan masyarakat terhadap UMKM ataupun koperasi tidak hilang. Dan juga pemerintah diharapkan agar tetap terus mengawasi dan memberikan bantuan terhadap koperasi dan UMKM agar tidak merugikan masyarakat.

Published in: on Desember 27, 2009 at 4:52 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

The URI to TrackBack this entry is: https://antilicious.wordpress.com/2009/12/27/kontribusi-koperasi-terhadap-umkm/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: